Cerpen : Senyum Cinta Tiara

| Minggu, Februari 11, 2018
Malam itupun semakin larut, detik jam pun mulai terdengar kencang, tanda tiada lagi kehidupan yang menimbulkan suara, tapi Tiara masih saja terjaga dengan laptop mungil dipangkukannya, sambil menatap bintang-bintang yang seakan senyum turut merasakan apa yang dirasakannya, iapun mulai menulis, “ Dear diary, sebuah tangis menitik dari pipiku tadi pagi, seorang , telah mencurahkan isi hatinya.. Ia menyatakan cinta kepadaku, sebenarnya, akupun turut menyukainya, dari semenjak kita bertatap muka , hingga kini, tetapi aku masih bimbang, akankah ia menjadi cinta sejatiku untuk selamanya, aku tak mau kehilangannya hanya karena salah memilih cinta ?...”.
Tiara merasa takut, takut untuk jatuh cinta lagi, bahkan di sekolahpun ia dikucilkan oleh teman sebayanya, dianggap sebagai pembunuh tanpa bukti, setiap lelaki yang mencintainya, selalu berakhir dengan kematian, Jika boleh dikata, Tiara itu Cantik, putih manis, rambutnya berponi rapi dan panjang juga, rajin beribadah.. setiap ia menghadap Rabb-nya ia selalu berdoa ,“ya Allah, mengapa aku selalu seperti ini, setiap apa yang kusayangi, setiap apa yang kucintai selalu Engkau ambil ?.., akankah ini cobaan ?, ataukah laknat yang tiada habisnya dariMu?..” dengan tetes air mata dipipinya, hampir setiap hari ia curhat kepada Rabb-nya, mohon diberikan pendamping yang kekal, yang abadi untuk selamanya, seumur hidupnya... . --- Suara merdu lagu Westlife – My Love, terdengar sayup dari Nokia miliknya yang membuatnya terbangun, “Hmm.. Ah, apa ?. sudah pukul 5.00 !, aku harus segera mandi !..” . Ia pun bergegas menuju kamar mandinya, mandi dengan tergesa-gesa, segeralah ia berganti baju seragam, lalu memakai lagi mukena yang tergeletak berserakan, bekas sholat tahajudnya kemarin malam, untuk sholat subuhnya.... . Seperti biasa , setelah sholat, iapun menyiapkan apa yang harus ia bawa nanti ke sekolah.., hingga saat Nokia-nya berbunyi lalu ia mengangkatnya. “Halo, Assalamualaikum, ?” Ucapnya tergesa gesa, “Waalaikumsalam, Tiara.. i..ini aku Dio, gimana nih , aku penasaran kamu mau membalas cintaku nggak ?”, ternyata suara Dio, teman sekaligus sahabat masa kecilnya.. “D..Dio.. (Masya Allah...) .. emm n..ntar aja yah di sekolah, aku mau berangkat dulu nih, takut kesiangan..” Jawab Tiara sambil gugup dan agak tergesa-gesa... “o, iya kalo gitu, aku tunggu yaa ” jawab Dio mengakhiri panggilannya... .Tiarapun terdiam sejenak, dia mencintai Dio sudah lama, tapi dia juga tak ingin kehilangan sahabat masa kecilnya itu, sahabat yang selalu ada saat susah maupun senang, “Ya Allah, bagaimana ini?, aku takut, aku tak ingin kehilangannya, ia sahabatku satu satunya, tetapi aku juga menyayanginya, aku tak mau membuatnya kecewa ” adunya kepada Rabb-nya sambil menengadahkan tangan...,Seketika itu ia tersadar “Aduh, aku bisa terlambat nanti ..!” segera ia berlari turun meniti tangga menuju dapur , disana ada bundanya yang sedang memasak, “Bunda, Tiara berangkat dulu, Assalamualaikum” sambil menyahut tangan bundanya lalu menciumnya dan berlalu begitu saja tanpa mendengar jawaban salam dari bundanya, ...

--- Sesampai di sekolah, ia berlari menuju ruang LAB BAHASAnya yang berada di lantai 3, ya ia tergesa-gesa lantaran tiada seorang siswa pun kini yang berkeliaran di luar kelas“A..assalamualaikum.. salamnya agak gugup..”, saat itu sedang berlangsung pelajaran bahasa Inggris, Pak.Aldo ,orangnya terkenal galak dan terkesan killer, tapi pada hakikatnya, ia mencintai Tiara, “Waalaikumsalam..!!” dengan suara menggelegar penuh dengan amarah Pak.Aldo pun menjawab. “Tiara, kamu kemana saja ha?, sudah pukul (sambil melihat jam tangannya) setengah 7 lewat 20 ?, kamu kan tahu, khusus kelas XII RPL harus masuk lebih pagi !!, kamu tidak bersyukur masuk kelas favorit hah??”.. bentak Pak.Aldo panjang lebar melepas paksa jabatan tangan lembut Tiara hingga mengenai pelipis Tiara, ya.. tentu dengan hati yang tersayat-sayat pak.Aldo melakukannya, sebenarnya ia tak tega, tapi ia tak ingin terlihat pilih kasih diantara murid-muridnya . Tiarapun menitikkan air matanya lagi...lagi... dan lagi !!, “apakah tak cukup siksaan padanya yang membuatnya sedih?? , apakah tak cukup sayata-sayatan luka di hatinya yang tak kunjung kering?? , Hingga seakan tiada getaran cinta dalam hatinya, ??, Tolong jangan siksa batinnya !!, jangan siksa ia !!, cukuplah aku saja yang menerimanya !!...” Jerit hati Dio yang menyaksikan tragedi tak patut itu .. , iapun tak terasa juga menitikkan air mata.. sejurus itu juga ia berlari , keluar dari mejanya, menuju ke depan . “Pak !, maaf, tapi kalau bapak mau kasar, dilihat dulu !, kasian Tiara, aku yakin, dia sudah berusaha datang pagi !!, tapi apalah boleh buat , jika jalanan jakarta macet seperti ini??” Dio menguras seluruh energinya, memuntahkan semua amarah dalam dirinya pada Pak.Aldo, .. Pak.Aldo pun dengan wajah sinisnya langsung berdiri berjalan tergesa menuju pintu, lalu keluar dengan membanting pintu besi itu !, .Tiara pun semakin terisak melihat hal tersebut, ia tak menyangka akan seperti ini keadaannya, Dio pun yang iba, lalu memeluknya erat-erat... “Sudahlah Tiara, yang lalu biarlah berlalu, mungkin ini cobaan dariNya, kau adalah salah satu umat yang di sayangiNya, hingga Ia memberimu cobaan seperti ini, Yakinlah Tiara, bahwa pasti ada pintu terang, pintu dimana jika kau buka, disanalah kebahagiaanmu berada, cinta, anugerah, dan semua yang kau inginkan ada disana...., Percayalah, Allah tak akan memberi cobaan melebihi batas kemampuan umatnya ”, nasihat Dio sembari mengusap air mata Tiara yang membasahi pipi dan rambut panjangnya. Seketika itu juga, teman-teman sekelas bertepuk tangan sangat meriah, hingga terdengar dari luar,ucapan selamat bertubi-tubi menghantam wajah Dio, ya, Dio memang cenderung pendiam, ia hanya bicara seperlunya saja, dan ia hobi membaca di perpustakaan, teman-temannya merasa bangga, karena tak ada seorang siswa pun di SMK ini yang berani bicara pada Pak.Aldo, kecuali diperintahnya.. Tiarapun menuju tempat duduknya, ia duduk disebelah Rina, sahabatnya, “Eh, ra, wah kamu beruntung loh dibelain Dio, aku aja pengen hihihihi” kekeh Rina yang diam-diam menyukai Dio, “Loh, emang kenapa rin ?” tanya Tiara penuh kebingungan, “Eh iya lah, secara si Dio kan anaknya pendiem , trus pas tadi, wow keren bangeeet hihihhi” kekehnya (lagi)..“Oh itu ” Tiara menjawab dengan senyumnya.. . “O iya ra, gimana? Jadi kamu balas gak cintanya Dio, dia dah kebelet tuh.. hihihhi” tanya Rina berbisik.. “Loh, rin ya..e... gimana yah.. aku masih
bingung rin.. ”
. “Loh, bukannya kamu juga suka sama Dio?”.“Nah itu masalahnya, aku takut rin, takut kehilangan dia, selain sahabat, dia juga temen dari kecil rin, rasanya berat banget kalo dia pergi , (dan lagi-lagi air mata itu menetes...)”.“Cupp..cup.. sudah kalo kemarin, kamu sama Terry, sama Johan, emang nggak ditakdirkan bersama, mereka meninggal memang karena mereka sakit kok, bukan karena kamu bunuh kann ..?” Ucap Rina mengelus punggung sahabatnya, “he.em..”

angguknya lemas... . Kelaspun kembali sunyi, sepi, perangkat komputer yang awalnya menjadi media pembelajaran, mereka pakai untuk mendengarkan lagu, sendiri.. sendiri... tapi tidak dengan Tiara, ia melamun tentang kejadian tadi pagi, “jikalau saja aku tidak terlambat, pastilah aku tidak sesedih ini, aku sudah fokus dengan pelajaran bahasa Inggris ini, aku menyesal sudah membuat Pak.Aldo keluar kelas dan tak mengajarkan ilmunya pagi ini pada kami, apakah semua yang aku lakukan ini salah ?, ataukah aku yang tak bisa menjalaninya dengan benar ?...”, ia kembali menundukkan kepalanya seraya memohon kepadaNya agar diberi kekuatan dalam menjalani alur kehidupannya saat ini.. . --- Krieet... suara pintu, seperti ada yang datang?, Tiara pun membuka matanya, alangkah terkejutnya ia, ia melihat disekeliling, ia hanya melihat tirai berwarna hijau tua.. ia melongok ke atas, ia mendapati tabung oksigen, beruntung Tiara langsung menyadarinya “Ya, Allah, ada apa ini, mengapa aku dirumah sakit ??” tanyanya dalam hati, . Hatinya terus bertanya-tanya hingga suatu saat seorang datang membuka tirai itu dan iapun kembali pingsan, .. Setelah beberapa lama , Tiara tersadar, hingga ia mendapati secarik kertas terlipat, penuh dengan guratan tulisan kasar, yang kaupun sulit membacanya, tetapi beruntunglah, Tiara dapat memahaminya.. “ Tiara, Ya Allah , Tiara, maaf aku mengagetkanmu , membawamu ke rumah sakit ini, karena, tadi aku melihat tetesan darah segar mengalir dari kedua lubang hidungmu , Tiara, sekali lagi aku meminta maaf, aku telah membuatmu sakit di batinmu, di jiwamu, aku tahu, kau tadi pasti sudah berangkat pagi, tapi semut kendaraan, yang menghalangimu.. Aku tak tahu, kau direndang dalam hati yang selalu sedih, selalu penuh cobaan, aku hanya mementingkan gengsiku sebagai guru killer, tapi itu membuatku kelewatan padamu, entah aku dapat atau tidak menjalani hidup ini, jika aku menjadi dirimu, aku tadi sudah meminta maaf pada teman-temanmu, merekapun mau memakluminya, tetapi Dio, dia tetap pada pendiriannya sendiri, dia masih marah padaku, tolonglah Tiara, mungkin umurku juga sudah tak berapa lama lagi, aku ingin mati dengan tenang, sekiranya kau telah tersadar, tolong mohonkan maafku pada Dio, . Dan satu lagi Tiara, aku memendam rasa cinta ini padamu sejak lama,sejak aku melihatmu, kau gadis yang sempurna, yang pernah aku temui, tapi apa daya, umurku tinggal sebentar lagi, aku hanya dapat menitipkan hati ini untukmu, tolong jaga baik-baik. Sekian.. Guru killermu : Aldo.” Tak berapa lama, Dio pun memasuki ruangan , “Assalamualaikum, sore Tiara !, sudah baikan sekarang ? ” tanya Dio sambil meletakkan kresek putih berisi bingkisan rangkaian
buah apel segar siap makan di meja, lalu menarik kursi menuju sebelah kanan tempat tidur Tiara. “Waalaikumsalam, Alhamdulilah baik Dio, kamu repot aja sih bawain buah ” jawab Tiara dengan agak lemas.“Nggak papa Tiara, yang penting kamu sehat ! ,oia, tadi si killer yang bawa kamu kesini, huh, enak aja maen, minta maaf.. :P ” Kata Dio sedikit emosi.“Huss.. Dio, Pak.Aldo udah menyadari kesalahannya, iapun sempat meminta maaf kepadaku lewat surat ini, aku merasa sangat bersalah Dio, diumurnya yang tidak lama lagi, aku masih saja membuatnya marah , aku tak sudi jadi sahabatmu lagi jika kau tak memaafkan pak Dio, tolong maafkanlah ia Dio...”.Ucap Tiara menatap tajam mata Dio sambil sedikit memelas, sejenak Dio terkejut , lalu ia tak sadar berucap “Apa?? Apa yang membuatmu seperti ini, kau juga suka sama Si killer itu ?? ok fine !, kau memang tak tahu apa yang aku rasakan, aku sayang kau Tiara, hatiku sangat amat terluka sekali melihatmu dicampakkan olehnya, apa kau tak sadar? Atau memang kau lebih menyayangi si killer itu hahh ??, baiklah kalo begitu, aku akan memaafkannya sekarang juga , mungkin ini bisa bikin kamu bahagia , bisa bikin kamu lega, tapi ingat, Tiara, dalam hati paling dalam, aku masih belum bisa memaafkannya !!” bentak Dio sambil berlalu cepat dari kamar Tiara... . Tiara kembali menuju pada titik kesedihannya yang entah sudah ke sekian kali.. berdoa “Salahkah aku Ya Allah, jika aku meminta satu umatmu untuk memaafkan orang lain ?, maafkan aku Ya Allah, sekiranya aku salah, tapi aku sangat mencintainya, menyayanginya, aku ingin ia memaafkan Pak.Aldo ... Mungkin Pak.Aldo khilaf, dan lepas emosi saat itu, aku mohon Ya Allah, berilah hidayah padanya supaya ia mau memaafkan Pak.Aldo... Amiin..”
--- Pagi itu tak seperti biasanya, Tiara sudah pulang sejak 3 hari yang lalu, Tiara sudah masuk sekolah sekarang, Tiara mencoba untuk meminta maaf pada Dio sambil mendekatinya di meja depan, “Dio, maafi aku, bukannya aku belain pak Aldo, tapi memang sudah seharusnya kamu memaafkannya, mungkin beliau sedang khilaf tempo hari...” bujuk Tiara.. Dio pun hanya melirik sinis, setelah itu ia pergi keluar... “Eh, ra, biarin tuh si Dio, eh denger-denger pak Aldo nggak masuk , beliau lagi di rumah sakit ya ?”. “Loh, emang ada apa Rin, kok di rumah sakit?” tanya Tiara bingung.. “Hm.. iya, beliau katanya mengidap tumor ginjal , dan ia harus mendapatkan transplantasi ginjal secepatnya, ia tak punya cukup biaya untuk membeli 1 ginjal, begitupun sekolah kita , ra, tambahan juga nih, ginjal yang satunya punya Pak.Aldo sepertinya juga sudah lemah !” seru Rina, . “Astaghfirullah, rin, kasian banget.. kita ntar jenguk yuk...” ajak Tiara.. “Loh, emang kenapa ?, emang kamu nggak hunting DVD sama si Dio? ni malem Minggu loh! :O” tanya Rina.. “Nggak rin, Dio lagi marah sama aku ”.. . “Yaudah, sabar deh ntar juga baik lagi, orang Dio aja kok diributi, iya gak?? Hehehhe” . Mereka berduapun tertawa denga gembiranya, tak sadar, Dio yang mendengar apa yang diucapkan Rina tadi, ia teringat kejadian 2 tahun lalu, ketika ia masih kelas X, saat ia ingin menyeberang , ketika itu semua kendaraan sudah mulai berjalan, ia hampir tertabrak bus, untung saja ada seorang laki" yang mendekapnya,menariknya , lalu seketika itu juga mereka berguling-guling hingga ke pinggir, dan laki-laki itupun mengalami gegar otak karena terantuk batu, keras sekali , laki-laki itu adalah Pak.Aldo, ya, guru yang dikenal killer itu,
memang telah menyelamatkan nyawa salah satu muridnya ini. “Pak Aldo, andai kau tak menarikku waktu itu, mungkin aku tak bisa menggapai hari ini..” gumam Dio.
--- Sore itu juga, setelah bersama-sama Rina dan Tiara sholat berjamaah di Masjid, mereka lantas meluncur menuju rumah sakit, “Mbak, kamar tempat Pasien bernama Aldo Setiawan dirawat, diruang mana ya ?” tanya Rina.. “Oh beliau sedang menjalani operasi di ruang UGD mbak, silahkan, dari sini, belok kiri ada perempatan belok kanan saja..” jawab suster.. “Ya, Allah Pak.Aldo.. Pak.. !!” Lantas Tiarapun berlari menuju kamar operasi... Rinapun menyusul setelahnya... . Mereka menunggu, menunggu dan menunggu...hingga lampu “ON AIR” operasi pun padan, pertanda operasi telah usai, betapa terkejutnya mereka,kereta tempat tidur , berisi seonggok mayat yang ditutupi kain putih... “Tak salah lagi, ini, pasti pak.Aldo” gumam Tiara... “Pak.Aldo..!!, paak..Maafkan saya pak.. ” iapun menggoyang-goyangkan tempat tidur itu.. kembali ia masuk dalam kesedihannya,
“Dasar Dio !, aku takkan memaafkanmu lagi !,aku tak mau mempunyai sahabat sepertimu,lebih mementingkan orang lain !!..hu..hu...” emosi Tiara pun meledak, setelah kereta itu berlalu “Sabar ra, itu semua udah kehendak Allah.. yang sabar ya..”. Tak lama , seorang dokterpun keluar, “Mbak, mbak yang namanya Tiara?” , “Hikz.. hikz... be..bener ppak..”. jawab Tiara bersama sisa tangisnya.. “Silahkan masuk mbak, ada yang ingin bertemu dengan mbak Tiara...” Ajak dokter itu... . Tiarapun menurut saja, lantas ia dan Rina pun memasuki ruang UGD itu, bau khas ruang operasi masih tercium disana.. “Tiara,..” ada suara berat yang mengagetkan Tiara, suaranya seperti pak.Aldo, “ah benarkah itu?, mungkin hanya ilusi saja...” pikir Tiara... Sambil membuka tirai hijau tua itu, betapa terkejutnya Tiara dan Rina, “P..PAK ALDO ??” ucap mereka hampir bersamaan... “Iya , ini aku, aku tak tahu siapa yang telah sudi merelakan ginjalnya untukku, sepertinya orang itu menitipkan surat ini untukmu, Tiara” Pak.Aldo pun memberikan surat itu kepada Tiara, dan Tiarapun membacanya ... “Dear Sahabat, teman, dan kekasihku tercantik dan terimut di kelas, Tiara... Hai, Tiara, kau pasti masih dendam kan, aku belum menerima maaf dari pak.Aldo, tenang, aku udah terima maaf kok dari orangnya, hehehe mungkin caranya dikit berbeda, .. ya, aku sangat berhutang nyawa kepada pak Aldo , dan kini, aku ingin membalasnya , dengan menitipkan ginjalku padanya, semoga hal itu dapat membuatnya lebih nyaman dan lebih lama lagi untuk mencintaimu sayang, rasa cintaku akan selalu bersamamu, ingatlah, bahagiakanlah beliau sayang, karena beliau, orang yang kau sayangi ini masih dapat hidup hingga kemarin, dan mati dalam keadaan yang lebih baik lagi, aku tau kok kau juga suka kan sama aku?, ngaku deh..!, tuh Rina yang udah cerita hehehehe :D, sekian dulu sayang, surat terakhir dariku, moga kau bisa bahagia dengan Pak.Aldo, harapku memang begitu, karena jika kau pilihPak.Aldo sebagai pendamping
hidupmu, kau adalah wanita palingberntung didunia ini Tertanda, Sahabatmu : FreDio Firmansyah Cynk Tiara Sangadt.. :P”

“Hik...Hik..Hik... Dioooooo...!!!!!” suara tangis Tiara menggema memecah keheningan sore hari di ruang UGD itu... “So.. ? :O” tanya Rina Bingung.. “Ta..tadi i..itu Dio rinnn..!!” , “A...Apaa ?? Dio ??” Rinapun sontak pingsan saat itu juga... . Sambil memandang wajah Pak.Aldo yang masih pucat, Tiara mengatakan, “Pak,...” . tiba tiba Pak.Aldo mencegahnya “Jangan panggil ‘Pak’ ya, panggil Kak, aja”, ya, memang Pak.Aldo hanya berbeda 2-3 tahun dengan Dio, Rina dan Tiara.. “i.. Iya .. Kak.., ini Dio, Dio yang sudah memberikan ginjalnya pada kakak... ”, keadaan hening sejenak... “Apa? Dio?, Innalilahiwainnalilahi rojiun, aku tak menyangka begini caranya ia memaafkanku, (sambil terisak,,) Dio, aku berjanji akan menjaga ginjalmu ini baik.baik.. ”... Tak lama kemudian, Kak.Aldo pun berkata “Ra, kamu mau nggak jadi pendmping hidupku untuk selamanya?”, “Maksud kakak ??, aku nggak ngerti deh..”, jawab Tiara... “Kamu mau jadi istriku?, aku akan segera melamarmu setelah kau lulus nanti .. ”... “Em.. (dengan wajah memerah).. Baiklah.. ”... “Alhamdulilah... :D” ucap Kak.Aldo, diikuti yang lain,.... hah, yang lain??... Siapa ?.... Pastinya kalian juga doonk, yang baca.. iya gakk :D hehehe,. --- 7 Tahun pun berlalu, Tiara sudah menikah dengan Aldo kini, mereka dianugerahi 2 orang anak , Fredio Fermansyah dan Rena Renita,. Memang benar, ia memberi nama salah satu anaknya persis seperti nama Dio karena ia ingin mengabadikan nama teman sekaligus murid yang berkorban untuk cinta mereka... Tiara sekarang menjadi seorang ibu rumah tangga yang membuka toko Online dengan menjual software-software buatannya, sedangkan Aldo, tetap mengajar sebagai guru bahasa Inggris di SMK tempat Tiara, Dio dan Rina dulu bersekolah. Memang, cinta itu tidak dapat ditebak, kapan hadirnya, dimana dan dengan siapa.. , intinya cinta adalah sebuah kebahagiaan yang tak akan pernah usai dimakan waktu , tapi seiring berjalannya waktu, cinta itu akan terus tumbuh, bahkan nanti hingga kita temui batas waktu kita merasakan cinta,..

0 komentar:

Posting Komentar

ketik pendapat kalian tentang postku ini ...

Next Prev

Copyright © C i m o B l o g s | Tema Noumi Kudryavka | Oleh Johanes Djogan (ID)