Qualide Code - Merebut kembali yang pernah dipertahankan

| Selasa, Mei 29, 2018

Judul : Qualidea Code 
Website : http://qualidea.jp/
Genre : Action, Magic, Supernatural, Fantasy
Origin : Light Novel
Tahun : 2016
Panjang : 4 Jam, 44 Menit, 05 Detik (12 Episode)
MAL Info : http://bit.ly/mal_qc
Download Link : Kusonime
Soundtrack Link : The Hylia
Favaourite Char : Maihime Tenkawa (Waifuable | Loli), Canaria Utara (Waifuable)

Well, sudah lama nggak review anime hahaha yaa maklumlah sok-sok-an soalnya jadi admin page anime. Kemarin sehari selesaiin anime satu ini nih, judulnya Qualidea Code ambil setting di Region (Prov) Kanto. Yup, kalo emang kalian juga seorang Trainer Pokemon Sejati pasti nggak asing dengan nama region ini, soalnya om Junichi buat region ini jadi region pertama di generasi pertama game konsol pokemon (hayooo buka lagi GameBoy nya yach ! haehehe).

Oke balik lagi, anime ini menceritakan tentang satu perang besar dimana makhluk bumi melawan sekumpulan makhluk bernama UNKNOWN (mungkin karena creature nya yang sebelumnya nggak diketahui) yang muncul di Pintu Masuk Teluk Tokyo. Oleh karena perang yang sangat hebat, seluruh anak-anak di tempatkan dalam suatu keadaan bernama cold sleep didalam sebuah kapsul yang saling terhubung satu sama lain. 
Dibalik ketegarannya, Maihime menangis di pelukan Hotaru
Setelah beberapa dekade kemudian, mereka yang terbangun belajar bahwa diri mereka memiliki kemampuan yang disebut "Dunia" (Sekali / World), Hal ini yang digunakan untuk melindungi Tiga kota di region Kanto tersebut (Tokyo, Kanagawa, dan Chiba) dari serangan UNKNOWN itu. Kemampuan "Dunia" itu diyakini berkembang ketika mereka dalam masa cold sleep. Mereka juga meyakini bahwa para orang tua meninggalkan mereka begitu saja, hingga diasuh oleh seorang yang mereka anggap sebagai Ibu yang bernama Airi Yunami.
Pimpinan dari setiap kota, pada awalnya saling bersaing. Dari Tokyo yang dipimpin Ichiya Suzaku dengan obsesinya yang ingin menyelamatkan dunia dengan tangannya sendiri, Canaria Utara wakil Ichiya sekaligus sahabat masa kecilnya yang kikuk, ceroboh, Periang (ini yang lovable) tapi memiliki kemampuan memberi kekuatan dengan lagunya berjudul "Time to Go", Kota Chiba yang dipimpin Kasumi Chigusa seorang cowok yang dingin dan hampir tanpa ekspresi, dengan wakil yang sekaligus adiknya sendiri Asuha Chigusa yang hampir tidak jauh sifatnya dengan kakak 'tercinta' nya (dua manusia ini punya kelainan Incest hahaha), dan terakhir Kota Kanagawa yang dipimpin oleh seorang cewek bertubuh kecil bernama Maihime Tenkawa, dengan sifatnya yang childish dan periang tapi punya sifat kepemimpinan yang tinggi dari kedua pimpinan kota lainnya, dengan wakil yang sangat menyayanginya seperti adiknya sendiri (padahal mereka berdua seumuran) bernama Hotaru Rindo.
Canaria yang kikuk, bersama teman masa kecilnya, Ichiya
Pertarungan sengit antara UNKNOWN dan Manusia terus berlangsung hingga satu persatu pemeran inti dari setiap kota gugur, dan inilah yang menggugah kebenaran yang sesungguhnya tentang siapa sebenarnya UNKNOWN dan siapa sebenarnya Umat Manusia ini. Kuncinya ada pada kode yang tertanam di setiap anak-anak yang terbangun dari cold sleep nya itu. Perang tidak hanya sampai disini, perang batin antara kenangan yang mereka milikipun membuat mereka sulit memastikan apa yang sebenarnya mereka hadapi. Seorang yang menyayanginya selama beberapa dekade, dari mereka terbangun hingga kini. Atau orang yang tiba-tiba muncul yang mengatakan bahwa merekalah yang berhak atas anak-anak tersebut.
Meski disebut sebagai "gagal-plot-twist" tapi aku suka banget ceritanya, yaa INPREDICTABLE seperti ini. Dibumbui setetes kisah lucu yang dibawa oleh Canaria dengan Ichiya tentang perasaan mereka masing-masing, Chigusa bersaudara yang incest, dan Maihime yang sifat imoutonya yang bikin Hotaru selalu mengkhawatirkan, dan menyayanginya seperti adiknya sendiri (pada dasarnya Hotaru emang lebih terlihat cool dan dewasa ketimbang Maihime).

0 komentar:

Posting Komentar

ketik pendapat kalian tentang postku ini ...

Next Prev

Copyright © C i m o B l o g s | Tema Noumi Kudryavka | Oleh Johanes Djogan (ID)